Halloween bukanlah suatu perayaan yang asli Indonesia dan sampai sekarang saya kira tidak ada orang di Indonesia yang merayakannya. Tetapi dengan sedemikian gencarnya tsunami budaya dalam bentuk penayangan film dan iklan mengenai Halloween yang dirayakan di barat sana (terutama Amerika Serikat), kemungkinan ada juga beberapa orang yang ingin merasakan seperti apa Halloween itu. Di lain pihak, pasti ada juga yang bertanya-tanya, apa gerangan Halloween itu ? Apakah Halloween adalah suatu perayaan agama-agama Kristiani, seperti anggapan umum terhadap segala sesuatu yang datang dari dunia barat ?
Halloween BUKAN suatu perayaan agama-agama Kristiani mana pun. Sejarahnya, konsep perayaan Halloween datang dari festival api bangsa Celtic penyembah berhala yang dulu tinggal di wilayah kepulauan Inggris, Irlandia dan barat laut Perancis. Festival ini disebut “Samhain” (dibaca “sow-in”) dan dirayakan oleh bangsa Celtic di akhir musim panas. Menurut kepercayaan mereka, waktu itu adalah waktu yang terbaik untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman mereka yang sudah meninggal. Sedangkan kata “Halloween” diturunkan dari nama hari peringatan di Inggris yang selalu dirayakan pada tanggal 1 November : All Hallows (Semua yang Keramat) yang dikenal juga sebagai hari Hallowmas; dimana hari sebelumnya disebut juga All Hallows Eve.
Pada tanggal 1 November tersebut, Gereja Katolik Roma juga merayakan hari peringatan bagi semua orang kudus, baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Banyak orang kudus dalam Gereja Katolik yang tidak mendapatkan penghormatan selayaknya karena berbagai hal, termasuk karena orang kudus tersebut tidak dikenal; maka pada hari inilah Gereja Katolik memberikan penghormatan yang selayaknya bagi mereka. Lalu pada tanggal 2 November, Gereja Katolik merayakan hari peringatan bagi arwah semua orang beriman yang berada dalam api pencucian.
Penghormatan bagi semua orang kudus dalam gereja Katolik Roma saat ini, yang disebut, telah mulai dilakukan sejak awal sejarah berdirinya Gereja Kristen. Orang-orang Kristen purba menghormati orang-orang beriman yang menjadi martir pada tanggal kematian dan lokasi mereka menjadi martir. Akan tetapi pada saat Kaisar Romawi Diocletian (284-305 Masehi) berkuasa, dia membunuh sedemikian banyak martir sehingga orang-orang Kristen purba yang tersisa tidak lagi dapat membedakan hari kematian dan lokasi kematian para martir tersebut, sehingga perlu ditetapkan satu hari yang dapat digunakan untuk menghormati mereka semua sekaligus. Bukti-bukti adanya hari tersebut ditemukan di Antiokia (hari Minggu pertama sesudah Pentakosta), dalam kotbah St. Ephrem dari Syria (373 Masehi) dan dalam kotbah ke-74 St. Yohanes Krisostomus (407 Masehi). Pada masa selanjutnya, Paus St. Bonifasius IV pada tahun 609 atau 610 Masehi menentukan satu tanggal yang digunakan bagi menghormati semua orang kudus dan Paus St. Gregorius III (731-741 Masehi) menetapkan Pesta Semua Orang Kudus jatuh pada tanggal 1 November.
Orang Kristiani sudah mulai berdoa bagi jiwa-jiwa dalan api pencucian dari masa para rasul, devosi ini semakin lama semakin berkembang dalam Gereja sehingga akhirnya ditetapkanlah tanggal 2 November sebagai hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman di Api Pencucian.
Kembali lagi ke masalah apa itu Halloween. Jelas Halloween walaupun berkaitan dengan hari yang dihormati oleh Gereja Katolik, bukan merupakan bagian dari perayaan tersebut. Halloween yang sekarang dirayakan secara umum di dunia barat lebih merupakan kebudayaan populer yang memperbolehkan anak-anak berkeliling mengumpulkan kembang gula dari rumah ke rumah dengan bertanya “Trick or treat?” pada setiap orang yang membuka pintu rumahnya jika diketuk anak-anak tersebut. Terjemahan bebas dari pertanyaan itu kurang lebih “Mau memberi kami kembang gula atau kamu akan kami isengi ?”, bagi cara pandang orang timur pertanyaan tersebut sudah bisa dianggap sebagai pertanyaan kurang ajar yang bisa diganjar dengan hukuman; tetapi apa mau dikata, lain ladang lain belalangnya. Industri yang ada di dunia barat terlihat sekali berusaha untuk mengkomersialisasikan Halloween, seperti juga Hari Natal, demi keuntungan mereka. Hal yang sama terlihat juga dalam upaya mereka melakukan komersialisasi hari kasih sayang. Karena itu, sebagai orang Indonesia, tidak perlulah kita ikut-ikutan merayakan Halloween seperti saudara-saudara kita di belahan dunia sebelah barat sana. Biarlah kita menikmati saja film-film bertema hantunya tanpa perlu ikut-ikutan latah merayakan Halloween. Ada banyak hari peringatan lain asli Indonesia yang sebaiknya kita lestarikan dibanding mengadopsi budaya baru yang belum tentu cocok bagi kita.
Bagi saudara-saudaraku sesama umat Katolik, Halloween bisa kita anggap sebagai pengingat bahwa esok harinya adalah Hari Pesta Semua Orang Kudus dan diikuti oleh Hari Peringatan Bagi Arwah Semua Orang Beriman di Api Pencucian. Waktunya bagi kita untuk menghormati para orang kudus yang membela iman bagi kita dan waktunya untuk mendapatkan indulgensi bagi orang-orang yang kita cintai yang mungkin sekarang masih berada di api pencucian. Ingatlah bahwa suatu saat kita juga akan berada di dalam api pencucian, di saat itu tentulah kita ingin ada orang lain yang berdoa bagi kita.